Gara-Gara Buah Coklat

Agustus 2, 2012 § 2 Komentar

Buah Coklat (source gettyimages)

Saat pengumuman naskah terbaik tiba, suasana kelas yang tadinya ramai dalam sekejap hening. Seluruh perhatian tertuju ke depan kelas, memperhatikan Pak Wawan yang sedang memeriksa kembali hasil penilaian sebelum membacakannya.

***

Rajamandala Kulon

Rajamandala adalah sebuah desa dalam wilayah Kecamatan Cipatat, yang terletak antara Padalarang dan Cianjur. Padalarang dan Cianjur adalah dua kota yang berada di barat kota Bandung. Pada waktu itu, diperlukan waktu lebih kurang dua jam perjalanan untuk sampai ke Bandung, dari Rajamandala.

Sejak pindah dari kota Malang, Rajamandala menjadi sebuah lingkungan baru buatku. Sebuah desa dengan wilayah sawah dan ladang yang luas. Matapencaharian penduduknya mayoritas adalah petani. Sebagian kecil dari penduduk yang lebih baik tingkat ekonominya juga berusaha beternak ikan selain bertani. Sehingga di sekitar rumah mereka dapat ditemui balong, sebutan untuk sebuah tambak kecil tempat beternak ikan. Struktur desa yang demikian, menawarkan lingkungan yang berbeda dengan tempat tinggalku sebelumnya di Malang, sebuah kota kecil dengan banyak pertokoan dan gang-gang kecil di daerah permukiman.

Di selatan desa Rajamandala, terdapat desa Cioray. Oray dalam bahasa Sunda berarti ular. Di sanalah, di Cioray, aku tinggal. Ada sebuah kompleks perumahan yang dibangun dan disediakan khusus bagi karyawan proyek. Jika perjalanan dilanjutkan ke arah Selatan Cioray maka siapa pun akan melihat pipa-pipa raksasa berwarna oranye. Di situlah dibangun proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air Saguling, memanfaatkan debit air sungai Citarum yang besar.  Sungai Citarum terkenal sebagai sungai yang sangat panjang, dan salah satunya melalui desa Rajamandala.

Rajamandala berjarak lima kilometer dari Cioray. Ada kendaraan proyek yang siap mengantar dan menjemput kami, anak-anak proyek, berangkat dan pulang sekolah. Sebagian besar dari kami bersekolah di SD Rajamandala 2, termasuk aku dan adikku.

Kali pertama bersekolah, di kelas empat, aku sangat terkejut melihat dua teman sekelasku bersekolah tanpa alas kaki, tak bersepatu. Beberapa yang lain memakai sepatu yang terlihat sudah terlalu kecil. Terlihat dari kondisi ujung sepatu yang berlubang, kebanyakan di bagian ibu jari kaki. Kalau pun kondisinya masih bagus, mereka sengaja melepas tali sepatunya sehingga bagian atas sepatu akan sedikit terbuka menyesuaikan dengan ukuran kaki pemakainya. Dijamin tidak akan lepas, karena sudah terlalu sesak.

Keadaan tersebut sangat jauh berbeda dengan kami, anak-anak proyek.

“Selamat pagi mister Anton,” goda Tatang suatu hari saat aku baru turun dari mobil proyek. « Read the rest of this entry »

Just Move On!

Juli 17, 2012 § 3 Komentar

Pagi itu indah. Pagi itu sebuah inspirasi.

Seperti pagi-pagi sebelumnya, kali ini aku kembali melakukan ritual pagi hariku dengan secangkir kopi hitamku. Setiap kali mencium aroma kopi hitam di hari yang masih subuh, anganku selalu melayang jauh ke sebuah pedesaan, di sebuah dapur  yang masih berlantai tanah, dan tergurat wajah seorang perempuan tua yang sibuk menjaga nyala api sebuah tungku dengan sesekali menambahkan kayu bakar. Entah mengapa, bayangan itu begitu lekat dalam benakku. Biasanya aku membiarkan bayangan itu bermain-main sejenak dalam ingatanku. Suasananya yang sangat ndeso dan sederhana sering menyadarkanku akan sebuah nilai kehidupan.

Tapi pagi ini aku tidak bisa bermanja dengan anganku itu. Di tanganku sudah ada beberapa lembar catatan barumu. Ini adalah catatanmu setelah catatan terakhir yang aku terima di awal Juni, satu bulan yang lalu. Sebuah catatan tentang keinginanmu untuk menjadi seorang penulis. Kau hanya ingin aku untuk membacanya. Tapi setiap kali selesai membaca, aku tidak bisa menahan diri untuk mengirimkan catatan balasan, sekadar memberikan tanggapan. « Read the rest of this entry »

Seseorang yang Ingin Menjadi Penulis

Juni 2, 2012 § 3 Komentar

pict. source: gettyimage

Cita-citaku! Setiap kali mendengar, lebih-lebih membicarakannya, pikiranmu melayang entah kemana. Tatapan matamu pun menerawang melayang ke langit seakan mengejar sebaris kata cita-cita yang kamupun tidak pernah tahu apa tepatnya bentukan sebaris kata tersebut.

Sudah menjadi kebiasaanku, bahwa setiap pagi selalu mengawali hari di teras belakang rumah. Sebuah halaman belakang yang tidak terlalu besar namun cukup nyaman. Pada salah satu sudut halaman terdapat kolam ikan kecil dengan air mancur yang menggericik perlahan. Satu hal lagi, segelas kopi hitam selalu setia menemani setiap pagiku. Aku selalu menikmati uapnya yang menjilat wajah dengan aromanya yang khas, yang selalu membawa ketenangan bagiku. Demikian juga pagi ini, saat aku mulai membaca sebuah catatan seorang kawan, tentang cita-cita dan impiannya. Kawanku mengawali catatannya dengan sebuah angan.

*** « Read the rest of this entry »